Di lereng pegunungan Bonggi, Denge, Desa Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat,
Kabupaten Manggarai—di gugusan pegunungan yang sama dengan Wae Rebo—terhampar kebun kopi
yang telah menjadi bagian dari cerita keluarga kami selama beberapa generasi.
Inilah kebun yang dahulu dirawat oleh kakek dan nenek kami. Dari tanah inilah mereka
membangun kehidupan, membesarkan keluarga, dan menanam harapan melalui setiap pohon kopi
yang tumbuh. Puluhan tahun telah berlalu, namun sebagian pohon-pohon kopi yang mereka tanam
masih berdiri kokoh hingga hari ini—menjulang, setia menjaga jejak masa lalu.
Kini, kami kembali ke kebun itu.
Dan ketika kami tiba, pohon-pohon tua itu masih berdiri. Menjulang kokoh, akarnya mencengkeram tanah yang sama yang dulu diinjak kakek dan nenek kami. Beberapa batangnya telah dimakan usia, namun daun-daunnya masih hijau, buahnya masih merah setiap musim. Mereka seolah berkata: "Kami menunggumu."
Dengan semangat yang sama, dengan tanah yang sama, dan dengan rasa hormat pada warisan
keluarga, kami berupaya menghidupkan kembali kebun ini. Kami meremajakan pohon-pohon kopi,
merawat kembali tanah yang pernah menjadi sumber kehidupan keluarga kami, sambil menjaga
pohon-pohon tua yang telah menjadi saksi perjalanan waktu.
Bagi kami, kopi ini bukan sekadar hasil panen.
Ia adalah kenangan.
Ia adalah cerita tentang keluarga, tentang akar, tentang pulang.
Setiap pohon tua yang masih berdiri adalah lembaran dalam buku sejarah keluarga kami.
Kopi yang tumbuh hari ini adalah kopi yang sama yang dahulu dinikmati oleh kakek dan nenek
kami—lahir dari tanah yang sama, disiram oleh hujan yang sama, dan dipetik dengan harapan
yang sama.
Melalui setiap cangkir, kami ingin berbagi lebih dari sekadar rasa.
Kami ingin berbagi sepotong kehidupan dari kebun kami. Sebuah kisah yang hidup dalam aroma,
hangat dalam seduhan, dan mungkin… akan tinggal dalam kenangan Anda.
Selamat menikmati Kopi Bonggi.
Dari tanah warisan kami, untuk cangkir Anda.